Hari itu telah lampau, puluhan tahun yang telah berlalu. Tetapi betapapun lama
hitungan puluhan tahun itu, hari-hari itu begitu dekat seperti baru terjadi kemarin.
Memang daya ingatan cara bekerjanya sangat misterius, terbolak-balik tiada dapat tentu.
Kadang ketika kita menunggu sesuatu waktu seperti berjalan di tempat, namun ketika kita
mengenang sesuatu seakan-akan kita bisa menembus waktu yang telah lampau dalam
hitungan detik.
Hari-hari yang hujan dalam ingatanku, aku sedang bermain-main air hujan di
sekitar pekarangan yang tandus diwaktu musim kemarau itu. Aku bermain kubangan air
di jugangan, lalu berseluncur diatas licinya tanah liat. Tetapi ketika halilintar bergemuruh
menyambar-nyambar maka segera kakekku memanggilku untuk segera mentas dari
bermain hujan. Itulah penggalan ingatan yang begitu mudah hadir dalam kenangan.
Sekarang aku sudah begitu rapuh, kulit-kulitku kisut sekeriput kulit kakekku
dahulu. Tulang-tulangku tak sekuat masa mudaku dahulu, rambut putih memahkotai
kepalaku. Namun yang paling menyiksa adalah peristiwa dalam ingatan-ingatanku tak mau luruh bersama usiaku, ia terus hadir bersama mimpi-mimpi di tengah malam yang
gelap. Dan, yang paling sering adalah ingatan tentang dirimu.
Dada terasa sesak, air mata keluar dengan sendirinya beriringan dengan aliran
ingatan tentang kita berdua. Meskipun yang ada dalam gambaran kenangan adalah hal
yang indah-indah tetap saja membuat hatiku bersedih. Serasa tubuh ada di ruang gelap
dan dingin, di dada terasa ada rongga gua bawah tanah yang begitu besar namun juga
gelap.Masa itu, bukit-bukit yang kita lalui dalam perjalanan penuh semerbak bunga
mawar di kanan kiri jalan. Para tani menyiangi tanaman dengan penuh kegembiraan dan
nyanyian, di wajah mereka terpancar sinar kemerdekaan dan kebebasan yang tiada dapat
di renggut darinya. Katamu kaum tani adalah orang yang paling senang sepanjang
hidupnya, mereka senang ketika melihat biji-biji yang disemai tumbuh daun hijau dan
mereka juga senang ketika mereka hendak panen. Kau mengajariku memetik bunga yang
merah mekar dan masih berembun untuk dimakan, rasanya manis kecut dan pahit jadi
satu.
Di bukit itu kita mendaki ke puncak yang paling tinggi, meski kuda-kuda yang
disewakan oleh pemiliknya telah di obral semurah-murahnya kita tetap tak tergoda dan
melanjutkan jalan mendaki. Sesekali kita berhenti untuk meandang hamparan pohonpohon dan liuk liku bukit-bukit di kejauhan yang sangat indah. Kita tidak saling bicara,
namun aku tahu masing-masing kita menyadari saat itu bahwa kita menikmati itu dalam
suasana kebersamaan yang sangat romantis.
Sekarang tua renta ini lumpuh, dimakan waktu yang katamu: waktu akan
meluruhkan segalanya. Tapi aku menampik anggapan itu, ingatan tak mau luruh seiring
berjalannya waktu, dan ukiran-ukiran perbuatan manusia mungkin saja bisa punah tetapi
ingatan mungkin selamanya mengambang dalam ruang angkasa seperti roh-roh yang
bergentayangan. Dan bintang-bintang di atas langit sana yang serba berkelap-kelip adalah
pancaran berjuta-juta tak terhingga keinginan dan ingatan manusia. Seperti keinginanku
sekarang ini, yang mungkin kekanak-kanakan dan abstrak. Aku menginginkan kita tak
pernah bertemu sehingga sakit yang sekarang kuderita karena perpisahan denganmu tidak
pernah kurasaakan. Andai saja kita tidak ada di tempat yang sama dan waktu yang sama
kita benar-benar tidak akan saling berjumpa. Kesanku terhadapmu begitu kuat, sehingga
detail-mendetail peristiwa apa saja yang kita lalui tak mungkin aku lupa.
Sungguhpun bila aku bisa datang ke masa laluku, aku akan berusaha untuk
menghindari pertemuan kita. Aku tidak akan menjabat tanganmu untuk berkenalan, aku
hanya kan menikmati keindahanmu dari kejauhan. Tetapi, apakah ada sebuah mesin yang
dapat kutumpangi untuk pergi ke masa itu. Bila ada apakah mesin itu mampu bekerja
dengan sempurna, mampu mengangkut renccana pikiranku sekarang ke masa itu.
Ataukah mesin itu hanya mengangkut tubuhku saja, dan ingatanku terhapus satu persatu
menurut derajat waktu. dan rencanaku sekarang juga ikut terhapus. Maka sia-sialah mesin
waktu itu karena tetap saja daya yang mempertemukan kita akan begitu kuat menarik kita
untuk bertemu.
Relakan semua, hayati, dan sadari. Itulah kata-katamu yang terakhir padaku, kau
bagai orang bijak yang bicara penuh keyakinan. Menasehati aku akan kesadaran yang
tulus dan keikhlasan yang tidak dibuat-buat. Sungguh saat perpisahan tidak ada hati yang
tidak remuk, dan tidak ada jiwa yang tidak menangis. Sebagaimana lambang yin dan
yang dalam mitologi, meskipun berbeda ia tetap berpelukan satu sama lain. Lalu aku dan
kamu haruskah berpisah hanya karena sebuah perbedaan.
Kau sudah menebak, apa-apa yang akan terjadi di hari-hari yang senja ini. Kita
masing-masing akan mengingat pada kenangan-kenangan yang indah. Katamu, semua
telah kita genggam saat kita sudah renta. Ya, memang semuanya telah kita genggam dan
rangkun dalam bahasa hati. Untuk itulah kita hidup kau berkata padaku, dan kemudian
kita mati telah turut dalam genggaman kita sebuah rahasia alam.
Saat kau tiba-tiba menyingkir dari kehidupan ramai dan membawa diri kepada
kesunyian. Kau tinggalkan segala upaya kita yang telah kita rintis dari awal.
Kesimpulanmu adalah, bahwa masing-masing dari kita telah menepati janji untuk saling
setia dalam kebersamaan dan tidak ada lagi sesuatu hal yang perlu di perdebatkan. Kau
menganggap cukup kita sampai disini, karena tiada lagi apa-apa yang kita songsong
dalam kebersamaan. Bahwa kita telah merangkum kebahagiaan yang sempurna dalam
senang dan pedih. Dan rasa senang dan pedih yang silih berganti itu telah menunjukan
jalan yang sunyi.Kau menyihirku dalam kebijaksanaan yang ayu, dan wajahmu berbinarbinar memancarkan keindahan misterius. Aku tak dapat mendebat bahwa kita memang
harus berpisah. Tetapi kerelaan yang tulus seperti yang kau ajarkan itu memang susah
dipenuhi. Sejenak setelah kau berkata-kata padaku, dan kita saling bisu menembus pandangan kita ke bukit-bukit di kejauhan. Kemudian kau yang pertama menangis,
sambil berkata bahwa batu pun dapat leleh. Aku diam dan tak bicara apa-apa padamu,
karena ketika aku bicara pasti akan menambah luka pada kita berdua.
Sekarang apa yang akan kulakukan, semua telah terjadi dan masing-masing dari
kita pasti luka. Jalan sunyi yang kau pilih adalah hakmu sepenuhnya dan aku tak dapat
berbuat apa-apa. Akupun harus rela seperti dirimu, itulah satu-satunya kebahagiaan
abadiku sekarang. Kerelaan atas sesuatu hal yang dipiliih kekasihnya, meskipun aku tetap
sedih. Namun kerelaan yang kurasa derajatnya mengalahkan kesedihan yang permanen.
Aneh benar perasaan ini, sedih namun bahagia, bahagia namun sedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar