11 Agu 2013
"Dehidrasi menuju maut"
berjalan menuju arah yang tak pasti
Tanpa tujuan,tanpa teman,
Di gurun pasir dihantui fatamorgana...
Berlari...berjalan..merangkak dehidrasi...!
Hanya keringat yang membasahi tubuh,
Hanya peluh yang menemani..
Entah apa yang sedang ku tuju
Apa yang sedang aku cari?
Hingga tak tersa ku sudah berjalan jauh, ku sudah merangkak tak tentu arah..
Tak satupun yang terlihat,tak satupun yang datang..
Badan ini mulai lemah..cairan tubuh mulai habis..
Hanya sisa-sisa keringat dan peluh yang membasahi...
Aku mulai dehidrasi
Kurasakan dehidrasi...
Apa hanya ini yg bisa menuntunku..
Apa hanya ini yg bisa mengantarkanku
Ke arah bahagia itu...
Ke arah bahagia yang entah ada dimana...
Hingga Semakin kusadari. Bahwa dia hanya akan menuntunku menuju maut....
26 Jun 2013
"Sedih namun bahagia,bahagia namun sedih"
Hari itu telah lampau, puluhan tahun yang telah berlalu. Tetapi betapapun lama
hitungan puluhan tahun itu, hari-hari itu begitu dekat seperti baru terjadi kemarin.
Memang daya ingatan cara bekerjanya sangat misterius, terbolak-balik tiada dapat tentu.
Kadang ketika kita menunggu sesuatu waktu seperti berjalan di tempat, namun ketika kita
mengenang sesuatu seakan-akan kita bisa menembus waktu yang telah lampau dalam
hitungan detik.
Hari-hari yang hujan dalam ingatanku, aku sedang bermain-main air hujan di
sekitar pekarangan yang tandus diwaktu musim kemarau itu. Aku bermain kubangan air
di jugangan, lalu berseluncur diatas licinya tanah liat. Tetapi ketika halilintar bergemuruh
menyambar-nyambar maka segera kakekku memanggilku untuk segera mentas dari
bermain hujan. Itulah penggalan ingatan yang begitu mudah hadir dalam kenangan.
Sekarang aku sudah begitu rapuh, kulit-kulitku kisut sekeriput kulit kakekku
dahulu. Tulang-tulangku tak sekuat masa mudaku dahulu, rambut putih memahkotai
kepalaku. Namun yang paling menyiksa adalah peristiwa dalam ingatan-ingatanku tak mau luruh bersama usiaku, ia terus hadir bersama mimpi-mimpi di tengah malam yang
gelap. Dan, yang paling sering adalah ingatan tentang dirimu.
Dada terasa sesak, air mata keluar dengan sendirinya beriringan dengan aliran
ingatan tentang kita berdua. Meskipun yang ada dalam gambaran kenangan adalah hal
yang indah-indah tetap saja membuat hatiku bersedih. Serasa tubuh ada di ruang gelap
dan dingin, di dada terasa ada rongga gua bawah tanah yang begitu besar namun juga
gelap.Masa itu, bukit-bukit yang kita lalui dalam perjalanan penuh semerbak bunga
mawar di kanan kiri jalan. Para tani menyiangi tanaman dengan penuh kegembiraan dan
nyanyian, di wajah mereka terpancar sinar kemerdekaan dan kebebasan yang tiada dapat
di renggut darinya. Katamu kaum tani adalah orang yang paling senang sepanjang
hidupnya, mereka senang ketika melihat biji-biji yang disemai tumbuh daun hijau dan
mereka juga senang ketika mereka hendak panen. Kau mengajariku memetik bunga yang
merah mekar dan masih berembun untuk dimakan, rasanya manis kecut dan pahit jadi
satu.
Di bukit itu kita mendaki ke puncak yang paling tinggi, meski kuda-kuda yang
disewakan oleh pemiliknya telah di obral semurah-murahnya kita tetap tak tergoda dan
melanjutkan jalan mendaki. Sesekali kita berhenti untuk meandang hamparan pohonpohon dan liuk liku bukit-bukit di kejauhan yang sangat indah. Kita tidak saling bicara,
namun aku tahu masing-masing kita menyadari saat itu bahwa kita menikmati itu dalam
suasana kebersamaan yang sangat romantis.
Sekarang tua renta ini lumpuh, dimakan waktu yang katamu: waktu akan
meluruhkan segalanya. Tapi aku menampik anggapan itu, ingatan tak mau luruh seiring
berjalannya waktu, dan ukiran-ukiran perbuatan manusia mungkin saja bisa punah tetapi
ingatan mungkin selamanya mengambang dalam ruang angkasa seperti roh-roh yang
bergentayangan. Dan bintang-bintang di atas langit sana yang serba berkelap-kelip adalah
pancaran berjuta-juta tak terhingga keinginan dan ingatan manusia. Seperti keinginanku
sekarang ini, yang mungkin kekanak-kanakan dan abstrak. Aku menginginkan kita tak
pernah bertemu sehingga sakit yang sekarang kuderita karena perpisahan denganmu tidak
pernah kurasaakan. Andai saja kita tidak ada di tempat yang sama dan waktu yang sama
kita benar-benar tidak akan saling berjumpa. Kesanku terhadapmu begitu kuat, sehingga
detail-mendetail peristiwa apa saja yang kita lalui tak mungkin aku lupa.
Sungguhpun bila aku bisa datang ke masa laluku, aku akan berusaha untuk
menghindari pertemuan kita. Aku tidak akan menjabat tanganmu untuk berkenalan, aku
hanya kan menikmati keindahanmu dari kejauhan. Tetapi, apakah ada sebuah mesin yang
dapat kutumpangi untuk pergi ke masa itu. Bila ada apakah mesin itu mampu bekerja
dengan sempurna, mampu mengangkut renccana pikiranku sekarang ke masa itu.
Ataukah mesin itu hanya mengangkut tubuhku saja, dan ingatanku terhapus satu persatu
menurut derajat waktu. dan rencanaku sekarang juga ikut terhapus. Maka sia-sialah mesin
waktu itu karena tetap saja daya yang mempertemukan kita akan begitu kuat menarik kita
untuk bertemu.
Relakan semua, hayati, dan sadari. Itulah kata-katamu yang terakhir padaku, kau
bagai orang bijak yang bicara penuh keyakinan. Menasehati aku akan kesadaran yang
tulus dan keikhlasan yang tidak dibuat-buat. Sungguh saat perpisahan tidak ada hati yang
tidak remuk, dan tidak ada jiwa yang tidak menangis. Sebagaimana lambang yin dan
yang dalam mitologi, meskipun berbeda ia tetap berpelukan satu sama lain. Lalu aku dan
kamu haruskah berpisah hanya karena sebuah perbedaan.
Kau sudah menebak, apa-apa yang akan terjadi di hari-hari yang senja ini. Kita
masing-masing akan mengingat pada kenangan-kenangan yang indah. Katamu, semua
telah kita genggam saat kita sudah renta. Ya, memang semuanya telah kita genggam dan
rangkun dalam bahasa hati. Untuk itulah kita hidup kau berkata padaku, dan kemudian
kita mati telah turut dalam genggaman kita sebuah rahasia alam.
Saat kau tiba-tiba menyingkir dari kehidupan ramai dan membawa diri kepada
kesunyian. Kau tinggalkan segala upaya kita yang telah kita rintis dari awal.
Kesimpulanmu adalah, bahwa masing-masing dari kita telah menepati janji untuk saling
setia dalam kebersamaan dan tidak ada lagi sesuatu hal yang perlu di perdebatkan. Kau
menganggap cukup kita sampai disini, karena tiada lagi apa-apa yang kita songsong
dalam kebersamaan. Bahwa kita telah merangkum kebahagiaan yang sempurna dalam
senang dan pedih. Dan rasa senang dan pedih yang silih berganti itu telah menunjukan
jalan yang sunyi.Kau menyihirku dalam kebijaksanaan yang ayu, dan wajahmu berbinarbinar memancarkan keindahan misterius. Aku tak dapat mendebat bahwa kita memang
harus berpisah. Tetapi kerelaan yang tulus seperti yang kau ajarkan itu memang susah
dipenuhi. Sejenak setelah kau berkata-kata padaku, dan kita saling bisu menembus pandangan kita ke bukit-bukit di kejauhan. Kemudian kau yang pertama menangis,
sambil berkata bahwa batu pun dapat leleh. Aku diam dan tak bicara apa-apa padamu,
karena ketika aku bicara pasti akan menambah luka pada kita berdua.
Sekarang apa yang akan kulakukan, semua telah terjadi dan masing-masing dari
kita pasti luka. Jalan sunyi yang kau pilih adalah hakmu sepenuhnya dan aku tak dapat
berbuat apa-apa. Akupun harus rela seperti dirimu, itulah satu-satunya kebahagiaan
abadiku sekarang. Kerelaan atas sesuatu hal yang dipiliih kekasihnya, meskipun aku tetap
sedih. Namun kerelaan yang kurasa derajatnya mengalahkan kesedihan yang permanen.
Aneh benar perasaan ini, sedih namun bahagia, bahagia namun sedih.
19 Jun 2013
"sorot pelangi yang meredup"
Pagi yang seperti biasa, murid-murid melangkahkan kaki nya dengan senyuman lebar dipipi nya. Termasuk Jaka, kapten basket sekolah yang banyak digandrungi oleh para wanita ini seperti biasa mengawali rutinitas nya bersama Ari, sahabat karib nya yang di kenal sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Jaka dan Ari selalu melakukan hal bersama-sama, layaknya seorang kakak dengan adik nya mereka pun selalu berusaha untuk membuat sebuah semangat setiap hari nya dengan bersama-sama.
Jaka yang dikenal sebagai kapten basket sekolah ini adalah salah satu dari sekian banyak orang yang selalu menebarkan senyuman untuk semua orang, seperti pelangi.. sinar mata Jaka mampu memancarkan aura positive bagi orang-orang yang melihat nya. Seorang siswa berprestasi ini mampu memikat semua wanita yang ada di sekolah. Tapi sayang, sejak dulu Jaka tidak pernah mengerti apa itu “mencintai dan dicintai”. Sangat bertolak belakang dengan Ari, hampir semua wanita pernah menjadi tambatan hatinya. Tidak jauh beda dengan jaka.. paras wajah Ari juga mampu membuat wanita jatuh hati pada nya.
Hari-hari mereka penuh canda dan tawa, selalu ada lelucon dalam persahabatan mereka. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Icha.. gadis cantik dan baik hati ini datang di kehidupan mereka. Seakan mengubah hidup Jaka, semenjak mengenal icha diam-diam Jaka menyimpan rasa pada Icha. Hanya Ari yang tahu semua cerita Jaka tentang icha.
“Kapan nih lo mulai deketin Icha? Hati-hati, sob! Keburu di gebet orang”.. celetuk Ari saat bel istirahat berbunyi. Jawab jaka dengan santai.. “ah! Lo kayak baru kenal gue sehari aja.. minder gue bos deketin cewek cantik kayak icha. lo tau sendiri gimana penyakit gue sekarang”. perdebatan mulai panas saat mereka membicarakan wanita ini, satu-satu nya wanita yang bisa membuat jantung Jaka seakan berhenti berdetak saat dua mata mereka saling bertatapan.. “kapan lagi?! Ayolah tunjukin dan kejar cinta lo itu. Gue yakin lo bisa!”.
Waktu terus berputar, kalimat Ari selalu menjadi hantu dalam ingatan Jaka.. sebenarnya bukan karena alasan itu yang membuat Jaka merasa tidak pantas untuk Icha. faktor keluarga yang menjadi salah satu alasan kuat Jaka, kurang lebih sudah dua tahun Ibu jaka menjadi single parent. Semenjak itu jaka berjanji hanya ingin membahagiakan wanita tercantik nya itu, yang menurutnya adalah Ibu nya.
Alasan lain yang membuat Jaka takut adalah Glioma, katagori besar kanker tumor premier yang berasal dari sel-sel glia. Jenis kanker yang dimulai dari otak atau tulang belakang. Jaka adalah salah satu penderita kanker tulang belakang yang mungkin mempunyai presentase untuk dapat bertahan hidup hanyalah 50%. Walau awalnya merasa bahwa kanker tersebut adalah sebuah tamparan hebat yang membuat hidupnya sama sekali tidak memiliki arti lagi, Jaka secara perlahan memulai mencoba untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan ketegaran dan besenang-senang dengan sahabatnya, Ari. Juga wanita yang di cintainya icha.
Ari selalu memotivasi dan meyakinkan Jaka bahwa ia layak untuk mendapatkan cinta icha. singkat cerita cahaya kehidupan Jaka mulai hadir kembali, icha yang selama ini didambakan nya sudah menjadi kekasih nya. berkat Ari yang selalu meyakinkannya. “Tuh.. gue bilang juga apa! Lo tuh selalu deh jangan suka putus asa sebelum mencoba. Terbukti kan sekarang icha bisa lo dapetin!”. Ujar Ari sambil merangkul pundak sahabatnya itu. “Sekarang gue percaya kalau selama berusaha gue pasti bisa dapetin apa yang gue mau. Makasih banget nih, Sob! Gue coba buat nikmatin hidup gue ini.” Tegas Jaka dengan penuh semangat.
Seminggu kemudian Jaka datang menemui dokter yang rutin ditemui nya setiap minggu untuk mengetahui bagaimana perkembangan Glioma di tubuh Jaka, seakan tersambar petir saat Jaka mendengar diagnosa tentang penyakitnya yang diutarakan oleh dokter.. “sel kanker di tulang belakang kamu makin menebar, harapan hidup penderita glioma mungkin hanya 46,33 bulan dengan rentang waktu 38-55 bulan” ucap dokter.. semua hening, waktu terasa berhenti saat vonis itu di jatuhkan pada Jaka. Tapi jaka tidak berhenti disitu saja. Ia lebih menikmati hidup nya mulai hari itu dengan Ari sahabat karib nya dan icha wanita yang di cintainya.
Kehadiran kanker dalam hidup Jaka telah membuat hubungan antara dirinya dengan kekasihnya, icha dan Ibumya menjadi begitu terguncang. Di sisi lain penyakit kanker tersebut kemudian membawa Jaka untuk mengenal beberapa karakter baru dalam kehidupannya yang mampu membuatnya lebih merasa bahagia atas kehidupan yang telah dijalaninya selama ini.
“Promnight tinggal nunggu hari nih, kita jadi dateng bertiga Ari, kan?” tanya icha pada jaka. “jadi dong.. kita bertiga nanti bareng-bareng ya kesana.” Ujar jaka dengan semangatnya.
Malam itu pun datang, semua anak terlihat bahagia saat promnight. Malam ini bisa di sebut sebagai malam perpisahan karena seminggu lagi mereka akan mengadakan hari perpisahan dan kelulusan. jaka lulus dengan nilai yang memuaskan, peringkat pertama dapat diraih nya dalam Ujian Nasional tahun ini. Begitupun dengan Ari.. walaupun tidak sama dengan peringkat jaka, namun Ari mendapatkan universitas yang ia idamkan sejak dulu. Tidak ketinggalan denga icha , wanita yang di cintai jaka ini benar-benar lulus dengan hasil memuaskan juga di terima di salah satu universitas kedokteran.
“Hai semuanya… gue mau ngomong sesuatu nih..”. tiba-tiba terdengar suara jaka yang berbicara di tengah kerumunan teman-temannya.. “gue itu sebenernya mengidap Glioma,lhoooo.. kanker tulang belakang dan udah akut banget.. hahahahaha” jaka mengutarakan kaliamat itu dengan nada lelucon dan tertawanya yang cukup keras. Dari sisi lain ada Ari yang menarik jaka dan berkata, “hahahaha lo semua kayak gak tau jaka aja, dia kan biasanya suka bercanda.”
Semua hening, antara percaya atau tidak namun semua teman-teman jaka sekejap merasakan khawatir, tidak lain adalah icha.. tersentak menangis saat mendengar kalimat jaka tadi. “Gila lo jack! Ngomong apasih lo barusan? Mau buat perhatian baru di sekolah?” Tanya Ari dengan sinis. Dan dengan lantang nya jaka menjawab, “gue Cuma bercanda kali, dan seenggak nya biar mereka nanti gak tanda tanya waktu ngeliat gue udah meninggal”. “heh ngomong apa sih lo?!” Tegas Ari.
Hari yang di tunggu-tunggu datang. Kelulusan itu sudah didepan mata. Semua siswa antusias dengan hari ini, entah apa yang istimewa hari ini.. tapi tetap saja bagi jaka hari ini masih seperti hari biasanya, tanpa ada yang istimewa kecuali hadir nya icha yang ada di sampingnya. Hari yang aneh.. tidak biasa-biasanya jaka memeluk icha dengan erat, “icha.. kamu harus jadi dokter. Kelak suatu saat nanti mungkin Cuma kamu satu-satu na dokter yang bisa sembuhin penyakit aku”. Kata-kata jaka yang membuat icha bertanda tanya.
Mala petaka itu datang, saat semua siswa bahagia mendapatkan kelulusan. Namun tidak untuk jaka… “jack…bangun! jack kenapaa?!”. Suara teriakan itu datang dari belakang panggung. Ternyata jaka sudah terbaring di lantai, dengan darah yang menyelimuti hidung hingga setengah wajah jaka. Semua panik.. haru biru pun terasa di hari perpisahan ini. Semua darah penuh di setengah wajah jaka, bahkan mata itu.. mata yang mempunyai sorot seperti pelangi seakan redup, habis, dan mati tenggelam merah nya darah itu. Hari perpisahan yang mungkin tidak hanya untuk para siswa. Namun juga untuk jaka...
Jaka yang dikenal sebagai kapten basket sekolah ini adalah salah satu dari sekian banyak orang yang selalu menebarkan senyuman untuk semua orang, seperti pelangi.. sinar mata Jaka mampu memancarkan aura positive bagi orang-orang yang melihat nya. Seorang siswa berprestasi ini mampu memikat semua wanita yang ada di sekolah. Tapi sayang, sejak dulu Jaka tidak pernah mengerti apa itu “mencintai dan dicintai”. Sangat bertolak belakang dengan Ari, hampir semua wanita pernah menjadi tambatan hatinya. Tidak jauh beda dengan jaka.. paras wajah Ari juga mampu membuat wanita jatuh hati pada nya.
Hari-hari mereka penuh canda dan tawa, selalu ada lelucon dalam persahabatan mereka. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Icha.. gadis cantik dan baik hati ini datang di kehidupan mereka. Seakan mengubah hidup Jaka, semenjak mengenal icha diam-diam Jaka menyimpan rasa pada Icha. Hanya Ari yang tahu semua cerita Jaka tentang icha.
“Kapan nih lo mulai deketin Icha? Hati-hati, sob! Keburu di gebet orang”.. celetuk Ari saat bel istirahat berbunyi. Jawab jaka dengan santai.. “ah! Lo kayak baru kenal gue sehari aja.. minder gue bos deketin cewek cantik kayak icha. lo tau sendiri gimana penyakit gue sekarang”. perdebatan mulai panas saat mereka membicarakan wanita ini, satu-satu nya wanita yang bisa membuat jantung Jaka seakan berhenti berdetak saat dua mata mereka saling bertatapan.. “kapan lagi?! Ayolah tunjukin dan kejar cinta lo itu. Gue yakin lo bisa!”.
Waktu terus berputar, kalimat Ari selalu menjadi hantu dalam ingatan Jaka.. sebenarnya bukan karena alasan itu yang membuat Jaka merasa tidak pantas untuk Icha. faktor keluarga yang menjadi salah satu alasan kuat Jaka, kurang lebih sudah dua tahun Ibu jaka menjadi single parent. Semenjak itu jaka berjanji hanya ingin membahagiakan wanita tercantik nya itu, yang menurutnya adalah Ibu nya.
Alasan lain yang membuat Jaka takut adalah Glioma, katagori besar kanker tumor premier yang berasal dari sel-sel glia. Jenis kanker yang dimulai dari otak atau tulang belakang. Jaka adalah salah satu penderita kanker tulang belakang yang mungkin mempunyai presentase untuk dapat bertahan hidup hanyalah 50%. Walau awalnya merasa bahwa kanker tersebut adalah sebuah tamparan hebat yang membuat hidupnya sama sekali tidak memiliki arti lagi, Jaka secara perlahan memulai mencoba untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan ketegaran dan besenang-senang dengan sahabatnya, Ari. Juga wanita yang di cintainya icha.
Ari selalu memotivasi dan meyakinkan Jaka bahwa ia layak untuk mendapatkan cinta icha. singkat cerita cahaya kehidupan Jaka mulai hadir kembali, icha yang selama ini didambakan nya sudah menjadi kekasih nya. berkat Ari yang selalu meyakinkannya. “Tuh.. gue bilang juga apa! Lo tuh selalu deh jangan suka putus asa sebelum mencoba. Terbukti kan sekarang icha bisa lo dapetin!”. Ujar Ari sambil merangkul pundak sahabatnya itu. “Sekarang gue percaya kalau selama berusaha gue pasti bisa dapetin apa yang gue mau. Makasih banget nih, Sob! Gue coba buat nikmatin hidup gue ini.” Tegas Jaka dengan penuh semangat.
Seminggu kemudian Jaka datang menemui dokter yang rutin ditemui nya setiap minggu untuk mengetahui bagaimana perkembangan Glioma di tubuh Jaka, seakan tersambar petir saat Jaka mendengar diagnosa tentang penyakitnya yang diutarakan oleh dokter.. “sel kanker di tulang belakang kamu makin menebar, harapan hidup penderita glioma mungkin hanya 46,33 bulan dengan rentang waktu 38-55 bulan” ucap dokter.. semua hening, waktu terasa berhenti saat vonis itu di jatuhkan pada Jaka. Tapi jaka tidak berhenti disitu saja. Ia lebih menikmati hidup nya mulai hari itu dengan Ari sahabat karib nya dan icha wanita yang di cintainya.
Kehadiran kanker dalam hidup Jaka telah membuat hubungan antara dirinya dengan kekasihnya, icha dan Ibumya menjadi begitu terguncang. Di sisi lain penyakit kanker tersebut kemudian membawa Jaka untuk mengenal beberapa karakter baru dalam kehidupannya yang mampu membuatnya lebih merasa bahagia atas kehidupan yang telah dijalaninya selama ini.
“Promnight tinggal nunggu hari nih, kita jadi dateng bertiga Ari, kan?” tanya icha pada jaka. “jadi dong.. kita bertiga nanti bareng-bareng ya kesana.” Ujar jaka dengan semangatnya.
Malam itu pun datang, semua anak terlihat bahagia saat promnight. Malam ini bisa di sebut sebagai malam perpisahan karena seminggu lagi mereka akan mengadakan hari perpisahan dan kelulusan. jaka lulus dengan nilai yang memuaskan, peringkat pertama dapat diraih nya dalam Ujian Nasional tahun ini. Begitupun dengan Ari.. walaupun tidak sama dengan peringkat jaka, namun Ari mendapatkan universitas yang ia idamkan sejak dulu. Tidak ketinggalan denga icha , wanita yang di cintai jaka ini benar-benar lulus dengan hasil memuaskan juga di terima di salah satu universitas kedokteran.
“Hai semuanya… gue mau ngomong sesuatu nih..”. tiba-tiba terdengar suara jaka yang berbicara di tengah kerumunan teman-temannya.. “gue itu sebenernya mengidap Glioma,lhoooo.. kanker tulang belakang dan udah akut banget.. hahahahaha” jaka mengutarakan kaliamat itu dengan nada lelucon dan tertawanya yang cukup keras. Dari sisi lain ada Ari yang menarik jaka dan berkata, “hahahaha lo semua kayak gak tau jaka aja, dia kan biasanya suka bercanda.”
Semua hening, antara percaya atau tidak namun semua teman-teman jaka sekejap merasakan khawatir, tidak lain adalah icha.. tersentak menangis saat mendengar kalimat jaka tadi. “Gila lo jack! Ngomong apasih lo barusan? Mau buat perhatian baru di sekolah?” Tanya Ari dengan sinis. Dan dengan lantang nya jaka menjawab, “gue Cuma bercanda kali, dan seenggak nya biar mereka nanti gak tanda tanya waktu ngeliat gue udah meninggal”. “heh ngomong apa sih lo?!” Tegas Ari.
Hari yang di tunggu-tunggu datang. Kelulusan itu sudah didepan mata. Semua siswa antusias dengan hari ini, entah apa yang istimewa hari ini.. tapi tetap saja bagi jaka hari ini masih seperti hari biasanya, tanpa ada yang istimewa kecuali hadir nya icha yang ada di sampingnya. Hari yang aneh.. tidak biasa-biasanya jaka memeluk icha dengan erat, “icha.. kamu harus jadi dokter. Kelak suatu saat nanti mungkin Cuma kamu satu-satu na dokter yang bisa sembuhin penyakit aku”. Kata-kata jaka yang membuat icha bertanda tanya.
Mala petaka itu datang, saat semua siswa bahagia mendapatkan kelulusan. Namun tidak untuk jaka… “jack…bangun! jack kenapaa?!”. Suara teriakan itu datang dari belakang panggung. Ternyata jaka sudah terbaring di lantai, dengan darah yang menyelimuti hidung hingga setengah wajah jaka. Semua panik.. haru biru pun terasa di hari perpisahan ini. Semua darah penuh di setengah wajah jaka, bahkan mata itu.. mata yang mempunyai sorot seperti pelangi seakan redup, habis, dan mati tenggelam merah nya darah itu. Hari perpisahan yang mungkin tidak hanya untuk para siswa. Namun juga untuk jaka...
Langganan:
Komentar (Atom)